Welcome

***Selamat datang di blog resmi Sofian Siregar*** Semoga blog ini bermanfaat. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah. Terimakasih telah berkunjung!

Selasa, 27 Januari 2015

Selamatkan! Dunia, Indonesia, Kita dan Saya


Bagaimana kamu menceritakan 'Empat Kata Selamatkan'!
Selamatkan dunia!
Selamatkan Indonesia!
Selamatkan kita!
Selamatkan saya!

My story:
Selamatkan dunia! Maka kita masih dapat menikmati anugerah Tuhan. Berjuang untuk hidup.
Selamatkan Indonesia! Maka kita masih dapat tinggal di negara yang berdaulat. Bebas dari belenggu. Bebas berkreasi.
Selamatkan kita! Maka kita kuat dan tidak dapat dipecah belah oleh siapapun. Damai dan sejahtera.
Selamatkan saya! Maka saya harus dapat mengendalikan diri dan dapat menerima perbedaan yang ada di sekitar. Mau belajar dan tetap rendah hati. :D

Bagaimana dengan ceritamu!

Senin, 26 Januari 2015

Pengantar Pilar Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara


Dino sedang membaca tumpukan kertas yang ada di kamar abangnya yang sudah duduk di bangku kuliah. Dia sangat senang membaca walau umurnya masih delapan tahun. Ayahnya selalu membelikannya komik menjadi bahan bacaannya.

Melihat Dino sedang berada di kamarnya, Riko memarahinya dan menyuruhnya keluar. Riko sangat benci kalau barang miliknya dipegang oleh adiknya. Ia takut tangan jahilnya akan selalu merusak.

Lalu Dino menghampiri ayahnya sedang membaca koran. Ia duduk tepat di samping ayahnya. Tidak berniat untuk mengganggu ayahnya. Namun tatapannya yang tajam membuat ayahnya menatap ke arahnya penuh tanya.
            
 “Apa kamu sudah sarapan?” tanya ayahnya.  
    
 “Mengapa kita harus sarapan ayah?”

“Kalau kamu tidak sarapan, kamu tidak akan punya tenaga untuk bekerja dan bermain.” Sahut ayahnya tanpa memandang wajahnya.

“Apa yang sedang ayah baca?”

“Berita tentang KPK dan Polri.”
            
“Aku juga sering menonton berita itu di tv ayah.” Dino begitu bersemangat.
            
“Film kartun lebih baik dari berita yang ada di tv.” Sahut ayahnya. Menonton berita terlalu dini buatnya pikirnya. Apalagi penyampaian kebanyakan berita terlalu memprovokasi. Dan bahkan tidak mendidik.
          
“Apakah semua orang belajar tentang Empat Pilar ayah?” tanya Dino.
            
“Apa itu?” tanya ayahnya balik.

“Dia pasti baru baca tentang Empat Pilar yang baru aku print.” Sahut Riko menghampiri mereka.
             
“Apa itu Riko?” tanya ayahnya pada Riko. Namun Riko menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia bahkan belum menyentuh tumpukan kertas itu.
            
“Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.” Kata Dino. Hal itu menbuat ayahnya terkejut dan semakin penasaran dengannya rasa ingin tahu anaknya. Biasanya anak-anak seumuran dia hanya tahu bermain dan menonton film kartun.
             
“Apa yang kamu tahu tentang Empat Pilar nak?” sekarang ayah berusaha menguji sampai dimana anaknya dapat menangkap apa yang dibacanya.
             
Dino dengan semangat yang berapi-api berdiri. Ia ingin sekali menirukan bagaimana seorang presiden menyampaikan pidatonya. Dengan sesekali mengerak-gerakkan tangannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian pilar adalah tiang penguat, dasar, yang pokok, atau induk. Penyebutan Empat Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara tidaklah dimaksudkan bahwa keempat pilar tersebut memiliki kedudukan yang sederajat. Setiap pilar memiliki tingkat, fungsi dan konteks yang berbeda. Pada prinsipnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara kedudukannya berada di atas tiga pilar yang lain.”
             
“Mengapa pancasila berada di atas tiga pilar yang lain?” tanya Riko.
            
“Karena Pancasila adalah sebagai dasar negara, pandangan hidup, ideologi negara, ligatur (pemersatu) dalam perikehidupan kebangsaan dan kenegaraan, dan sumber dari segala sumber hukum.” Raut wajah Riko tampak bingung. “Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara harus menjadi jiwa yang menginspirasi seluruh pengaturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.” Tegas Dino.
          
“Apa abang lupa kalau karakteristik Indonesia sebagai negara-bangsa yang padat penduduk, majemuk dan luas? Pancasila merupakan konsensus nasional dan dapat diterima oleh semua kelompok masyarakat Indonesia. Pancasila memberi kekuatan kepada bangsa Indonesia, sehingga perlu dimaknai, direnungkan, dan diingat oleh seluruh komponen bangsa.”
             
Ayah Dino semakin tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Ia tahu Dino sangat suka membaca. Tapi ia tidak tahu kalau  ia dapat memahami dengan baik apa yang ia baca. “Lalu UUD 1945?” tanya ayahnya.
          
“Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sebagai hukum dasar, merupakan kesepakatan umum warga negara mengenai norma dasar dan aturan dasar dalam kehidupan bernegara. Kesepakatan ini utamanya menyangkut tujuan dan cita-cita bersama, serta bentuk institusi dan prosedur ketatanegaraan. Berdasarkan Undang-Undang Dasar ini, Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka. Oleh karena itu, dalam negara yang menganut paham konstitusional tidak ada satu pun perilaku penyelenggara negara dan masyarakat yang tidak berlandaskan konstitusi.”
          
Riko mengambil tumpukan kertas yang baru dibaca oleh Dino. Memastikan apakah Dino berkata benar atau tidak. Ia kemudian membuka tumpukan kertas itu. “Lalu bagaimana dengan NKRI?” tanya Riko penasaran sembari melihat yang ia pegang.
          
“Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan bentuk negara yang dipilih sebagai komitmen bersama. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah pilihan yang tepat untuk mewadahi kemajemukan bangsa. Oleh karena itu komitmen kebangsaan akan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi suatu “keniscayaan” yang harus dipahami oleh seluruh komponen bangsa. Dalam konstitusi secara tegas menyatakan bahwa khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan karena merupakan landasan hukum yang kuat bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat diganggu gugat.” Kata Dino semakin bersemangat.
          
Riko tidak menemukan dengan pasti perkataan Dino. Sepertinya Dino merangkum yang ia baca pikirnya. Lalu tatapannya semakin tajam mengarah pada Dino. “Bagaimana kau bisa memahami dengan cepat?”
        
“Aku belum selesai dengan Bhineka Tunggal Ika.” Sahut Dino tersenyum. “Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan negara sebagai modal untuk bersatu. Kemajemukan bangsa merupakan kekayaan kita, kekuatan kita, yang sekaligus juga menjadi tantangan bagi kita bangsa Indonesia, baik kini maupun yang akan datang. Oleh karena itu kemajemukan itu harus kita hargai, kita junjung tinggi, kita terima dan kita hormati serta kita wujudkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.”
          
“Lalu mengapa kita harus belajar empat pilar? Tanya ayahnya. “Bukankah itu sekedar pelajaran kewarganegaraan?”
           
“Setiap penyelenggara negara dan segenap warga negara Indonesia harus memiliki keyakinan, bahwa itulah prinsip-prinsip moral keindonesian yang memandu tercapainya perikehidupan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”
           
“Aku tidak mengerti.” Kata Riko.
           
“Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa pengabaian, pengkhianatan, dan inkonsistensi yang berkaitan dengan keempat pilar tersebut bisa membawa berbagai masalah, keterpurukan, penderitaan dan perpecahan dalam perikehidupan kebangsaan.”
           
“Seperti berita tentang Polri dan KPK?” tanya Bambang.
             
“Itu tidak seberapa. Yang lebih parah ketika semua masyarakat memandang mereka sebuah konflik. Lalu siapa lagi penegak hukum yang dapat dipercaya untuk dimintakan perlindungan? Media seharusnya berhati-hati menyampaikan berita. Dan masyarakat harus bijaksana. Toh mereka melakukan tugasnya masing-masing sesuai dengan perundang-undangan.” Dino tersenyum sinis.
             
“Aku ikut aksi Save KPK.”
            
 “Itu hak abang ikut aksi. Tapi bukan berarti dengan demikian pihak-pihak tertentu sudah pasti benar atau sudah pasti salah. Harus kembali lagi empat pilar. Mereka melakukan tugasnya. Mengapa jadi masyarakat yang terpecah-pecah? Toh setiap pihak ingin membuktikan kebenaran. Seperti kata ayah tadi kita sarapan untuk dapat bermain dan bekerja. Sama halnya dengan semua ini. Kita butuh belajar memahami sebelum berkoar-koar.”
             
Riko seakan tidak percaya melihat adiknya begitu lantang berbicara. Mungkin Dino seorang yang jenius atau…” Tiba-tiba Riko terbangun dan mendapati adiknya sedang membaca ‘Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara’ miliknya. Mimpi oh mimpi.

***

Konsepsi pokok yang melandasi Empat Pilar adalah semangat gotong royong. Bung Karno mengatakan, “Gotong royong adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan. Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, perjuangan bantu binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris, buat kepentingan bersama! Itulah gotong royong.” (dikutip dari Pidato Bung Karno, 1 Juni 1945).

Dan Pancasila hendaknya dikembangkan dengan semangat gotong-royong: prinsip ketuhanan harus berjiwa gotong- royong (ketuhanan yang berkebudayaan, yang lapang, dan toleran), bukan ketuhanan yang saling menyerang dan mengucilkan. Prinsip Kemanusiaan universalnya harus berjiwa gotong-royong (yang berkeadilan dan berkeadaban), bukan pergaulan kemanusiaan yang menjajah, menindas, dan eksploitatif. Prinsip persatuannya harus berjiwa gotong-royong (mengupayakan persatuan dengan tetap menghargai perbedaan, “bhinneka tunggal ika”), bukan kebangsaan yang meniadakan perbedaan atau pun menolak persatuan. Prinsip demokrasinya harus berjiwa gotong-royong (mengembangkan musyawarah mufakat), bukan demokrasi yang didikte oleh suara mayoritas atau minoritas elit penguasa-pemodal. Prinsip keadilannya harus berjiwa gotong-royong (mengembangkan partisipasi dan emansipasi di bidang ekonomi dengan semangat kekeluargaan), bukan visi kesejahteraan yang berbasis individualisme- kapitalisme, bukan pula yang mengekang kebebasan individu seperti dalam sistem etatisme.

Konsepsi tentang semboyan negara dirumuskan dalam “Bhinneka Tunggal Ika”, meskipun berbeda- beda, tetap satu jua (unity in diversity, diversity in unity). Di satu sisi, ada wawasan ”ke-eka-an” yang berusaha mencari titik-temu dari segala kebhinnekaan yang terkristalisasikan dalam dasar negara (Pancasila), Undang-Undang Dasar dan segala turunan perundang-undangannya, negara persatuan, bahasa persatuan, dan simbol-simbol kenegaraan lainnya. Di sisi lain, ada wawasan kebhinnekaan yang menerima dan memberi ruang hidup bagi aneka perbedaan, seperti aneka agama/keyakinan, budaya dan bahasa daerah, serta unit-unit politik tertentu sebagai warisan tradisi budaya.

Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dipandang sebagai sesuatu yang harus dipahami oleh para penyelenggara negara bersama seluruh masyarakat dan menjadi panduan dalam kehidupan berpolitik, menjalankan pemerintahan, menegakkan hukum, mengatur perekonomian negara, interaksi sosial kemasyarakatan, dan berbagai dimensi kehidupan bernegara dan berbangsa lainnya. Dengan pengamalan prinsip Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, diyakini bangsa Indonesia akan mampu mewujudkan diri sebagai bangsa yang adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat.

Anak kecil aja tertarik belajar. Bagaimana dengan kita yang pola berpikirnya sudah matang. Sanggupkah kita menanamkan bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara pada anak kita dengan kata-kata sederhana. Mungkin mereka tidak seperti Dino yang sangat cerdas. (walau hanya dalam mimpi abangnya. hehe) Tapi dengan belajar dan menanamkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mudah-mudahan mereka akan meniru dan tumbuh dengan pemikiran pemersatu.

Mari belajar!!

Minggu, 25 Januari 2015

Sebuah Catatan Singkat "Polri + KPK = Harmoni"

Cicak Vs Buaya? Konfrontasi yang merupakan timbunan rasa tidak puas dan rasa tidak percaya terhadap bagian administrasi publik, lembaga penegak hukum di Indonesia, Kejaksaan & Kepolisian dengan KPK.

Apakah benar KPK diibaratkan sebagai seekor cicak? Bukankah KPK Lembaga Negara yang independen. Bebas dari pengaruh kekuasaan manapun.

Apakah benar Kepolisian diibaratkan sebagai seekor buaya? Bukankah Kepolisian berada dan tunduk di bawah kekuasaan presiden.

Hal ini tidaklah perlu diperdebatkan.

Negara ini dibentuk atas dasar perjanjian masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan UUD 1945. Negara Indonesia adalah negara hukum. Semua berpijak pada hukum bukan emosional belaka. Oleh karena itu, mari kita junjung tinggi hukum tanpa menjelek-jelekkan suatu badan seperti Kepolisian ataupun KPK. Kebenaran tidak akan terungkap kalau tidak dibuktikan dihadapan hukum.

Kepolisian dan KPK. Lakukan tugas dan fungsimu sesuai dengan sumpah jabatanmu!
Kalau memang terbukti Anggota KPK melakukan tindak pidana. Kepolisian segera Proses!
Kalau memang terbukti Anggota Kepolisian melakukan Tindak Pidana Korupsi sesuai dengan UU TIPIKOR. KPK segera proses!

Siapa yang tahu setiap orang pasti benar atau pasti salah kalau tidak dibuktikan dihadapan hukum.
Bukankah setiap kekuasaan yang dimiliki akan cenderung disalahgunakan? Apalagi kekuasaan yang dimiliki itu semakin besar lagi.

Kepolisian dan KPK adalah kombinasi yang luar biasa untuk mencegah terjadinya penyelewengan kekuasaan yang ada di kedua instansi itu. Semua orang sama di hadapan hukum. Sehingga terhadap pihak-pihak yang menyeleweng segera diproses.

Bagaimanapun juga, kebenaran tidak akan pernah dapat disembunyikan. Apa? Buktinya? Haha. Setidaknya Tuhan Maha Tahu.

Terkait dengan kasus Bapak Bambang Widjoyanto. Kalau memang sudah memiliki alat bukti yang cukup. Kepolisian segera tangkap. Tentu harus sesuai dengan prosedur yang ada. Kalau tidak terbukti. Yah. Jangan tetap dibesar-besarkan. Bagaimana dengan presiden dalam hal ini? Kalau memang terbukti. Bapak presiden harus mengambil perannya untuk memberhentikan sementara atau lain sebagainya. Tapi ingat. ini bukan konflik antara Kepolisian dan KPK. Tidak lebih daripada penegakan hukum.

Dan harapannya juga KPK bertidak serupa dengan hal di atas. Jangan pernah takut melaksanakan tugas sesuai dengan sumpah jabatanmu. Biar itu petinggi Polri. Kalau terbukti bersalah, segera proses.

Mari dukung KPK dan Kepolisian!!! (Memberi kritik membangun juga merupakan salah satu dukungan. Penyampaian kritik membangun haruslah hormat dan santun.)

Salam Damai! Aku cinta negaraku. Negara Republik Indonesia.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!